Aku
ingin menceritakan pengalaman pertamaku mengikuti program pengabdian masyarakat
yang diadakan oleh kampusku. Awalnya aku mengikuti kegiatan ini karena ajakan
dari kakak tingkat (kak Linggar) yang memberi tahuku tentang acara PKS
(Pelatihan Kader Sosial) yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Negeri
Surabaya. Ini merupakan serangkaian acara FEM (Fakultas Ekonomi Mengabdi) yang
merupakan kegiatan sosial di luar lingkungan kampus. Dari situ aku tertarik untuk
bergabung dalam kegiatan ini, karena menurut cerita yang mereka sampaikan
kepadaku, kegiatan ini terlihat sangat asik sekali. Kegiatan ini diadakan
selama 3 hari (20-23 Maret 2014) di Ds. Jajar, Trawas, Mojokerto. Dalam
kegiatan ini ada sekitar 17 mahasiswa baru angkatan 2013 sebagai peserta dan kakak
pendamping serta panitia dari semua angkatan.
Kami berangkat dari Surabaya jumat
sore. Dari prodi akuntansi ada 4 peserta termasuk aku. Sampai di lokasi, aku
dan teman-teman berkumpul di balai desa Trawas untuk melakukan brieving.
Setelah itu panitia membagi tempat menginap bagi peserta. Setiap peserta
ditempatnya pada sebuah rumah yang mayoritas penghuninya kurang mampu.
Aku ditempatkan di rumah mbah Siti, nenek
berusia 75 tahun yang hidup sebatang kara. Suaminya sudah meninggal sejak lama
sedangkan anak sewata wayangnyanya tinggal bersama suaminya di Lamongan. Saat
aku tiba di rumahnya, beliau menyambutku dengan ramah. Aku dipeluk dengan erat
seakan-akan sebagai pelampiasan rasa kangen terhadap anak dan cucunya yang jauh
diseberag sana. Hatiku benar-benar tersayat melihat kondisi nenek ini. Tinggal
sendiri di rumah yang begitu sederhana. Berdinding triplek yang sudah tak kokoh
lagi dengan atap genteng yang terlihat sudah rapuh. Namun mbah Siti tetap
terlihat tegar dengan senyuman yang menyembul di ujung bibirya. Wajahnya
berseri-seri mengembara diantara kulit kriputnya yang dimakan usia.
Setelah
itu beliau membuatkanku segelas teh hangat. Dan hatiku semakin pilu ketika aku
melihat kondisi dapur mbah Siti. Semua alat masaknya menggunakan alat
tradisional. Tanahnya becek, karena semalam habis hujan. Atap dapurnya terlihat
bolong-bolong. Jadi wajar saja jika air hujan dengan mudahnya masuk ke dalam dapur
mbah Siti. Di rumahnya tidak terdapat kamar mandi. Setiap mau mandi, mencuci
baju dan BAB mbah Siti harus berjalan menuju sungai. Dan aku tak bisa
membayangkan ketika tubuh tua ini berjalan sendiri ke sungai ketika malam hari.
Mbah Siti menceritakan kehidupan sehari-harinya. kehidupan yang begitu
keras dijalaninnya. Tak bisa kutahan
lagi air mataku. Sekali lagi kupeluk nenek ini dengan erat. Suasana mengharukan
ini akhirnya pecah ketika panitia datang mengunjungi rumah mbah Siti.
Kakak-kakak panitia berusaha menghibur mbah Siti yang pada saat itu juga ikut menangis.
Kamipun akhirnya berhasil membuat suasana ramai kembali.
Kuikuti
segala aktifitas mbah Siti selama 3 hari disana. Setiap pagi mbah Siti pergi ke
hutan untuk mencari sesuatu yang bisa dijual dan ditukarkan dengan beras atau
lauk pauk. Seperti daun singkong, pakis, biji gontor, ubi, rempah-rempah dan
kayu bakar. Semua itu tidak dengan mudah didapat mbah Siti. Aku dan mbah Siti
harus menyebrangi sungai yang cukup deras dan melewati tanjakan yang cukup
curam untuk mencapi ke atas hutan. Kami bersimpangan dengan beberapa warga yang
juga melakukan aktifitas yang sama. Namun umumnya mereka masih muda dan tidak
setua mbah Siti. Pernah suatu hari mbah Siti terjatuh di sungai karena pada
saat itu air sungai sangat deras. Beliau pingsan dan tak ada orang yang tau.
Setengah badannya terendam di air dan dahinya terbentur batu. Hingga bebera
menit kemudian beliau tersadarkan diri dan dengan badan yang lemas berjalan
pulang. Sesampai di kampung, barulah para tetangga membantu mbah Siti berjalan
pulang. Tubuh mbah Siti penuh luka dan dahinya yang berdarah membuat
tetangganya ikut panik. Akhirnya untuk beberapa hari mbah Siti hanya bisa
berbaring sakit di rumahnya.
Sepanjang
perjalanan di hutan aku selalu was-was. Takut jika ada ular atau binatang
lainnya yang muncul dengan tiba-tiba dari semak-semak yang lebat. Aku yang
dengan spontan menjerit ketika ada suara asing terdengar membuat mbah Siti
tertawa. Sebenarnya aku malu sama mbah Siti, tapi aku juga senang bisa membuat
beliau tertawa seperti itu. Seenggaknya mbah Siti bisa melupakan beban hidupnya,
meskipun hanya sementara saja. Mbah Siti dengan cekatan mengambil tanaman di
hutan yang bisa dimanfaatkan. Beliau sudah hafal jenis-jenis tanaman yang
dibutuhkan. Sedangkan aku harus memilah satu persatu agar tidak salah ambil.
Kami terus berjalan di hutan. Kakiku terasa capek, sakit tergores kayu-kayu
kecil yang lancip disepanjang jalan, belum lagi gatal-gatal digigit nyamuk
serta bulu-bulu tanaman yang menempel di tangan. Tapi mbah Siti terlihat biasa
saja bahkan saat kutanya, beliau menjawab tidak merasakan capek dan gatal
sedikitpun. Aku diajak beristirahat di bawah pohon besar. Disana kakiku
dipijitin mbah Siti, aku menolak namun mbah Siti seolah-olah tau apa yang aku
rasakan. Aku benar-benar malu sama mbah Siti. Untuk kesekian kalinya aku tak
bisa menahan air mataku. Mbah Siti memelukku kembali. Kuajak mbah Siti untuk
melanjutkan perjalanan, aku tak tega melihat mbah Siti sedih lagi. Sambil
berbincang-bincang kami melanjutkan perjalanan.
Tak
terasa 3 hari sudah berlalu, pengalaman baru yang sangat berkesan dan tak akan terlupakan. Begitu banyak pelajaran yang aku
dapat dari mbah Siti. Bagaimana aku harus belajar bekerja keras, bersabar dan
bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Tuhan. Aku bangga dengan mbah Siti,
meskipun beliau sudah tua namun semangat beliau begitu luar biasa. Mbah Siti
tidak mau merepotkan tetangganya, beliau tidak pernah meminta belas kasihan
dari tetangganya. Namun Tuhan maha adil, karena mbah Siti dikelilingi
tetangga-tentangga yang sangat baik hati dan peduli dengannya. Bahkan ada
tetangga yang dengan suka rela menyalurkan listrik gratis ke rumah mbah Siti.
Meskipun baru 3 hari aku tinggal bersama mbah Siti namun mbah Siti sudah kuanggap
seperti nenekku sendiri bahkan seperti orang tuaku.
Kegitan
ini kami tutup dengan berpamitan kepada warga Ds.Trawas dan membagikan sembako
kepada warga yang kurang mampu. Aku sangat beruntung mengikuti kegiatan ini. Sebenarnya
sangat berat hati sekali harus berpisah dengan mbah Siti. Namun aku sadar, air
mata bukanlah akhir dari segalanya. Air mata tak pernah cukup untuk
mengungkapkan perasaan manusia. Kali ini aku menangis bukan karena terharu oleh
keadaan yang dialami mbah Siti, namun aku menangis karena bahagia bisa melukiskan
kisah dalam perjalanan hidup mbah Siti. Semoga apa yang telah kujalani 3 hari
bersama mbah Siti bisa bermanfaat bagi orang lain terlebih buwat diriku
sendiri. Akan kurindukan selalu senyuman dari mbah Siti. Semoga aku dapat
berjumpa kembali dengan mbah Siti di lain kesempatan.
TERIMAKASIH MBAH SITI DAN TERIMAKASIH KEGIATAN PKS :)
TERIMAKASIH MBAH SITI DAN TERIMAKASIH KEGIATAN PKS :)
10/04/2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar