Selasa, 22 Juli 2014

Pengalamanku Bersama Mbah Siti


Aku ingin menceritakan pengalaman pertamaku mengikuti program pengabdian masyarakat yang diadakan oleh kampusku. Awalnya aku mengikuti kegiatan ini karena ajakan dari kakak tingkat (kak Linggar) yang memberi tahuku tentang acara PKS (Pelatihan Kader Sosial) yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya. Ini merupakan serangkaian acara FEM (Fakultas Ekonomi Mengabdi) yang merupakan kegiatan sosial di luar lingkungan kampus. Dari situ aku tertarik untuk bergabung dalam kegiatan ini, karena menurut cerita yang mereka sampaikan kepadaku, kegiatan ini terlihat sangat asik sekali. Kegiatan ini diadakan selama 3 hari (20-23 Maret 2014) di Ds. Jajar, Trawas, Mojokerto. Dalam kegiatan ini ada sekitar 17 mahasiswa baru angkatan 2013 sebagai peserta dan kakak pendamping serta panitia dari semua angkatan.

            Kami berangkat dari Surabaya jumat sore. Dari prodi akuntansi ada 4 peserta termasuk aku. Sampai di lokasi, aku dan teman-teman berkumpul di balai desa Trawas untuk melakukan brieving. Setelah itu panitia membagi tempat menginap bagi peserta. Setiap peserta ditempatnya pada sebuah rumah yang mayoritas penghuninya kurang mampu.

 Aku ditempatkan di rumah mbah Siti, nenek berusia 75 tahun yang hidup sebatang kara. Suaminya sudah meninggal sejak lama sedangkan anak sewata wayangnyanya tinggal bersama suaminya di Lamongan. Saat aku tiba di rumahnya, beliau menyambutku dengan ramah. Aku dipeluk dengan erat seakan-akan sebagai pelampiasan rasa kangen terhadap anak dan cucunya yang jauh diseberag sana. Hatiku benar-benar tersayat melihat kondisi nenek ini. Tinggal sendiri di rumah yang begitu sederhana. Berdinding triplek yang sudah tak kokoh lagi dengan atap genteng yang terlihat sudah rapuh. Namun mbah Siti tetap terlihat tegar dengan senyuman yang menyembul di ujung bibirya. Wajahnya berseri-seri mengembara diantara kulit kriputnya yang dimakan usia. 

Setelah itu beliau membuatkanku segelas teh hangat. Dan hatiku semakin pilu ketika aku melihat kondisi dapur mbah Siti. Semua alat masaknya menggunakan alat tradisional. Tanahnya becek, karena semalam habis hujan. Atap dapurnya terlihat bolong-bolong. Jadi wajar saja jika air hujan dengan mudahnya masuk ke dalam dapur mbah Siti. Di rumahnya tidak terdapat kamar mandi. Setiap mau mandi, mencuci baju dan BAB mbah Siti harus berjalan menuju sungai. Dan aku tak bisa membayangkan ketika tubuh tua ini berjalan sendiri ke sungai ketika malam hari. Mbah Siti menceritakan kehidupan sehari-harinya. kehidupan yang begitu keras  dijalaninnya. Tak bisa kutahan lagi air mataku. Sekali lagi kupeluk nenek ini dengan erat. Suasana mengharukan ini akhirnya pecah ketika panitia datang mengunjungi rumah mbah Siti. Kakak-kakak panitia berusaha menghibur mbah Siti yang pada saat itu juga ikut menangis. Kamipun akhirnya berhasil membuat suasana ramai kembali. 

Kuikuti segala aktifitas mbah Siti selama 3 hari disana. Setiap pagi mbah Siti pergi ke hutan untuk mencari sesuatu yang bisa dijual dan ditukarkan dengan beras atau lauk pauk. Seperti daun singkong, pakis, biji gontor, ubi, rempah-rempah dan kayu bakar. Semua itu tidak dengan mudah didapat mbah Siti. Aku dan mbah Siti harus menyebrangi sungai yang cukup deras dan melewati tanjakan yang cukup curam untuk mencapi ke atas hutan. Kami bersimpangan dengan beberapa warga yang juga melakukan aktifitas yang sama. Namun umumnya mereka masih muda dan tidak setua mbah Siti. Pernah suatu hari mbah Siti terjatuh di sungai karena pada saat itu air sungai sangat deras. Beliau pingsan dan tak ada orang yang tau. Setengah badannya terendam di air dan dahinya terbentur batu. Hingga bebera menit kemudian beliau tersadarkan diri dan dengan badan yang lemas berjalan pulang. Sesampai di kampung, barulah para tetangga membantu mbah Siti berjalan pulang. Tubuh mbah Siti penuh luka dan dahinya yang berdarah membuat tetangganya ikut panik. Akhirnya untuk beberapa hari mbah Siti hanya bisa berbaring sakit di rumahnya. 

Sepanjang perjalanan di hutan aku selalu was-was. Takut jika ada ular atau binatang lainnya yang muncul dengan tiba-tiba dari semak-semak yang lebat. Aku yang dengan spontan menjerit ketika ada suara asing terdengar membuat mbah Siti tertawa. Sebenarnya aku malu sama mbah Siti, tapi aku juga senang bisa membuat beliau tertawa seperti itu. Seenggaknya mbah Siti bisa melupakan beban hidupnya, meskipun hanya sementara saja. Mbah Siti dengan cekatan mengambil tanaman di hutan yang bisa dimanfaatkan. Beliau sudah hafal jenis-jenis tanaman yang dibutuhkan. Sedangkan aku harus memilah satu persatu agar tidak salah ambil. Kami terus berjalan di hutan. Kakiku terasa capek, sakit tergores kayu-kayu kecil yang lancip disepanjang jalan, belum lagi gatal-gatal digigit nyamuk serta bulu-bulu tanaman yang menempel di tangan. Tapi mbah Siti terlihat biasa saja bahkan saat kutanya, beliau menjawab tidak merasakan capek dan gatal sedikitpun. Aku diajak beristirahat di bawah pohon besar. Disana kakiku dipijitin mbah Siti, aku menolak namun mbah Siti seolah-olah tau apa yang aku rasakan. Aku benar-benar malu sama mbah Siti. Untuk kesekian kalinya aku tak bisa menahan air mataku. Mbah Siti memelukku kembali. Kuajak mbah Siti untuk melanjutkan perjalanan, aku tak tega melihat mbah Siti sedih lagi. Sambil berbincang-bincang kami melanjutkan perjalanan. 

Tak terasa 3 hari sudah berlalu, pengalaman baru yang sangat berkesan dan tak akan  terlupakan. Begitu banyak pelajaran yang aku dapat dari mbah Siti. Bagaimana aku harus belajar bekerja keras, bersabar dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Tuhan. Aku bangga dengan mbah Siti, meskipun beliau sudah tua namun semangat beliau begitu luar biasa. Mbah Siti tidak mau merepotkan tetangganya, beliau tidak pernah meminta belas kasihan dari tetangganya. Namun Tuhan maha adil, karena mbah Siti dikelilingi tetangga-tentangga yang sangat baik hati dan peduli dengannya. Bahkan ada tetangga yang dengan suka rela menyalurkan listrik gratis ke rumah mbah Siti. Meskipun baru 3 hari aku tinggal bersama mbah Siti namun mbah Siti sudah kuanggap seperti nenekku sendiri bahkan seperti orang tuaku. 

Kegitan ini kami tutup dengan berpamitan kepada warga Ds.Trawas dan membagikan sembako kepada warga yang kurang mampu. Aku sangat beruntung mengikuti kegiatan ini. Sebenarnya sangat berat hati sekali harus berpisah dengan mbah Siti. Namun aku sadar, air mata bukanlah akhir dari segalanya. Air mata tak pernah cukup untuk mengungkapkan perasaan manusia. Kali ini aku menangis bukan karena terharu oleh keadaan yang dialami mbah Siti, namun aku menangis karena bahagia bisa melukiskan kisah dalam perjalanan hidup mbah Siti. Semoga apa yang telah kujalani 3 hari bersama mbah Siti bisa bermanfaat bagi orang lain terlebih buwat diriku sendiri. Akan kurindukan selalu senyuman dari mbah Siti. Semoga aku dapat berjumpa kembali dengan mbah Siti di lain kesempatan. 

TERIMAKASIH MBAH SITI DAN TERIMAKASIH KEGIATAN PKS :)


 10/04/2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANDU

Aku adalah gadis kecil yang   beranjak dewasa, tepatnya orang menganggap ABG. Dunia remajaku yang penuh dengan fantasi. Kutemukan dun...