Rabu, 17 Oktober 2012

ARUM SERUNAI

ARUM SERUNAI

Oleh : Aris Yunita


                Pagi  ini berbeda dengan biasanya,sang Fajar tampak malu-malu menunjukkan sinarnya. Sepoi-sepoi angin menyeka permukaan kulitku dengan lembut. Titik-titik embun tampak begitu manja menempel di kaca jendela kamarku. Kuintip dari koridor kamarku,masih terlihat agak gelap,sepi dan hening. Suara ayam jago  yang biasanya berkokok dan suara burung yang biasanya bernyanyi  juga tak kudengar di pagi ini. Mungkin mereka masih terlelap tidur dan enggan bangun untuk menyapaku.
                Meskipun terlihat masih petang,jam di sudut kamarku terus menari-nari dan menunjukkan pukul 05.00. Segera aku mengambil air wudhu lalu kutunaikan sholat subuh.
                Selesai sholat aku mengambil sapu dan menyapu halaman di depan rumah. Ini adalah pekerjaan rutinku setiap hari. Selesai menyapu halaman,aku segera mandi,dandan,sarapan dan bersiap-siap ke sekolah.
                “Kok tumben berangkat pagi nak?” tanya Ibuku heran. ”Iya bu,jam pertama nanti waktunya Bahasa Inggris,waktunya guru galak yang pernah kuceritakan dulu? ”jawabku asal saja. Dengan sibuk memakai sepatu taliku kulirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 06.25.
”Gak boleh begitu nak,nanti ilmunya gak barokah lho”sahut ibuku. Tanpa ku hiraukan omongan ibuku barusan,langsung kusambar tas di atas kursi dan kucium tangan ibuku .
“Aku berangkat bu,Asssalamualaikum”sahutku sambil menaiki sepeda miniku warna biru. ”Waalaikumsalam,hati-hati nak!! gak usah ngebut”suara ibuku terdengar lirih dari ujung sini,karena aku sudah meloncong jauh dari rumahku.
Aku selalu menunggu teman-temanku di pertigaan jalan menuju sekolahku. Seperti biasa teman-temanku sudah menungguku,karena aku yang selau  datang terakhir.
Santi dan Devi adalah sahabatku. Mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bersamaku. Santi adalah anak yang paling centil dan pemberani diantara kami. Sedangkan Devi adalah anak yang selalu ceria dan selalu punya ide-ide kreatif.
Diantara kami bertiga akulah yang sering diusililn cowok-cowok. Ya makhlum saja,mungkin aku yang paling manis dan paling populer disekolah ini. Setiap di usilin cowok-cowok,Santi lah yang selalu melindungiku karena dia yang paling pemberani diantara kami.
“Arum cantik?”sapa seorang cowok yang bersimpangan denganku. ”Iya”kujawab dengan senyum dan malu-malu. ”Mau keman?kok tumben jalan sendiri,biasanya kan selalu di ikuti oleh dua bodyguard manja?hehehe...”tanyanya dengan sedikit menggodaku. ”Mau ke ruang BK ambil jurnal”jawabku singkat. “Jutek banget sih rum?”kata cowok itu,yang mungkin agak kecewa dengan jawabanku barusan. Tanpa kuhiraukan lagi,segera kupercepat langkahku menuju ruang BK.
                Kalau jam pelajaran seperti ini,aku paling males kalau disuruh keluar kelas mengambil jurnal atau ada panggilan MPK. Pasti ada saja anak yang menggodaku.
Devi dan Santi memang tidak satu kelas denganku. Devi di kelas 8-B,Santi di kelas 8-C,sedangkan aku di kelas 8-A.
Kelasku sendiri berdampingan dengan kelas 9-A,jadi hampir setiap hari cowok-cowok 9-A selalu menggoda dan mengusiliku. Tapi mereka tidak pernah menyentuh atau memegangku. Mereka cuma nyorakin dan bersiul-siul kalau aku lagi lewat didepan kelasnya. Tapi ada satu cowok diantara mereka yang tak pernah menggodaku kalau aku lagi jalan sendiri. Dia cuma tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah apapun.
Aku adalah anak yang pemalu dan agak cuek,jarang sekali aku menegur seorang cowok,apalagi kakak kelas. Tapi anehnya lidahku begitu gemas untuk menyapa cowok yang satu ini. Mungkin karena dia tak pernah menyapaku selama ini.
“Siapa namanya?Dimana rumahnya?Bagimana sifatnya?”pertanyaan-pertanyaan itu terus menggeliat di otakku. Aku sendiri tak tau darimana datangnya.
“Hayo,nglamun aja...”bentak Dewa yang membubarkan lamunanku. ”Apaan sih kamu,selalu aja bikin aku kaget”jawabku sambil cemberut.  ”Gak baik tau,nglamun terus ntar kesambet lho”sahut Dewa sambil menyeringi.”Biarin,asal gak kesambet setan nyebelin kayak kamu”jawabku jutek. ”Hahaha...rum-Arum lucu banget sih kamu”jawabnya menggoda.
Dewa adalah teman cowokku yang super usil,meskipun begitu aku tak pernah marah padanya karena tingkah lakunnya selalu mengundang tawa. Apalagi gayanya yang cool dan penampilannya yang keren tak pernah membuat mata jemu untuk memandangnya.
Bel pulang sekolah SMP 1 Kharya Bakti berbunyi. Aku,Devi dan Santi segera menuju parkir untuk mengambil sepeda kami. Namun mataku berkeliaran kesana kemari untuk mencari sesuatu. Akhirnya dari samping aula terlihat seseorang yang aku cari. Ya,badannya yang tinggi,kulitnya sawo matang,wajahnya yang manis dengan sedikit kumis tipis di atas bibirnya.
“Cari apaan sih rum?ayo cepetan jalan”bentak Devi sambil menyenggolku. ”Eh iya Dev,kamu duluan aja deh gak apa-apa”jawabku sambil tetap menatap cowok itu dari kejauhan. ”Kamu kenapa sih rum,gak biasanya kamu kayak gini?”lanjut Santi yang keheranan. ”kalau ada masalah itu ngomong dong!!...katanya sahabat?Sahabat kan harus saling berbagi dan saling membantu?”tambah Devi. Aku jadi merasa bersalah kepada mereka,karena biasanya aku selalu curhat kepada mereka kalau aku lagi ada masalah.
Di perjalanan pulang,kuceritakan semua kejadian hari ini yang sempat membuatku tidak konsentrasi belajar. ”Waduh,rupanya sahabatku ini lagi kasmaran ya?”Goda Santi. ”Ciee...terus bagaimana dengan Dewa rum?Dia kan sudah lama menunggumu?”sahut Devi. ”Kalian ini apaan sih?aku kan cuma ingin tau tentang cowok itu,gak lebih kok. Eh malah bawa-bawa Dewa”jawabku kesal.
Tanpa terasa kami sudah tiba di pertigaan jalan,kamipun berpencar menuju rumah masing-masing. ”Sampai jumpa Arum?nanti malam kalau lagi galau telepon kami ya?”kata Devi dan Santi yang memang searah jalan pulangnya. ”Dasar anak-anak centil”gerutuku dalam hati.
Hari ini terasa begitu cepat,sambil membantu ibuku memasang kancing baju ayah,kudengar sayup-sayup adzan magrib sudah berkumandang. Segera Aku dan Ibu menunaikan sholat magrib.Selesai sholat kami makan malam bersama.
Aku segera menuju kamar untuk belajar,kali ini aku tidak terlalu bersemangat. Halaman demi halaman hanya ku bolak-balik saja,ku baca sekilas tanpa kupahami isinya. Hanya bayangan cowok itu yang terlintas dalam pikiranku dan sesekali bayangan Dewa muncul di sela-sela pikiranku. Kututup bukuku dan ku rebahkan badanku di atas pembaringan.
“Ya allah,apa yang terjadi padaku?kenapa aku memikirkan dua cowok sekaligus?apakah ini yang dinamakan cinta?aku tak pernah merasakan ini sebelumnya”. Ribuan pertanyaan itu membuat kepalaku pening.
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara getar dari handpone ku. Sebuah pesan baru dari Dewa.
“Selamat tidur Arum Serunai?semoga mimpi indah. Salam manis dariku”. Setelah kubaca kalimat itu,kurasakan begitu tenangnya malam ini,menemaniku dalan sunyinya malam dan mengantarkanku dalam mimpi yang sangat indah.
Pagi ini aku sangat bersemangat sekali untuk berangkat sekolah,entah karena hari ini agak free pelajarannya atau karena dua sosok pemuda idaman yang menghantuiku dalam mimpiku semalam.
Seperti biasa setiap hari Rabu jadwalku berolah raga.Pelajaran kali ini adalah bermain voli. Selesai berolah raga aku menuju kantin untuk membeli minum. Dan betapa terkejutnya aku,di bangku samping tempatku berdiri, cowok itu duduk sambil menyruput segelas susu hangat. Tanpa sengaja mataku dan matanya berpapasan untuk kesekian kalinya. Dan lagi-lagi dia hanya tersenyum ramah. Segera kubalas senyumnya dengan senyuman termanis yang pernah kupunya.
Dengan sedikit curi-curi pandangan,kuamati gerak-gerik cowok itu,dan baru kutahu namanya adalah Ryan Anggara yang terlihat dari seragamnya. Tanpa permisi dia meninggalkanku dengan temannya yang sudah duluan menggodaku.
Ryan Anggara. Ya nama itu terus teriang di telingaku,terus berotasi di dalam pikiranku,terus menjalar di aliran darahku.”Arrh... buwat apa aku mikirin cowok itu,belum tentu dia memikirkanku. Kenal aja egak,bicara dengannya juga gak pernah apalagi bisa menjalin hubungan dengannya?”aku menghibur diriku sendiri dengan berusaha menghapus bayangan cowok itu dari benakku.
“Arum cantik?”suara Dewa yang khas memecah keheninganku. ”Iya wa,ada apa?kalau mau ngusilin aku,jangan sekarang.Aku lagi bad mood”jawabku agak malas.
”Ih,kok gitu sih rum?niatku kan baik.Eh coba lihat aku dech,ada yang beda gak?Udah pantas belum aku buwat kamu?”tanya Dewa sambil ngrapiin rambutnya . ”Hmmm.....Potong rambut ya?bagus kok,lebih rapi”jawabku singkat.
”Ih kamu jutek banget sih rum?”kata Dewa. ”Loh,kok jadi ngambek sih?Iya-iya maaf deh. Tambah cakep kok! jawabku sambil tersenyum manja. Dewa pun ikut tertawa girang.
Hari ini aku sangat gembira. Aku bisa bercanda dengan Dewa sekaligus mengetahui nama kakak kelasku yang ku idolakan itu.
malam ini aku,Devi dan Santi belajar berasama di rumahku. Seperti biasa setelah selesai belajar kami selalu menyempatkan waktu untung berbagi kisah atau sekedar curhat. Kali ini aku yang paling banyak bercerita. Kuceritakan semua perasaan gundahku selama ini.
“Suka sama orang itu boleh aja rum,tapi ingat! mereka juga punya perasaan. Jangan menggantungkan mereka,apalagi menyakiti hati mereka. ”Kata Santi menasehatiku.
“iya rum,kamu gak boleh egois seperti itu,menjalin hubungan dengan dua cowok sekaligus. Pilihlah satu dari mereka,jangan kamu permainkan perasaan mereka”tambah Devi menasehatiku.
“Tapi aku kan gak mempermainkan mereka?Dewa Cuma temen biasa,sedangkan cowok itu juga belum tentu mempunyai perasaan yang sama denganku”jawabku tegas.
“Tapi kamu kan gak tau hari esok rum?bisa saja dugaanmu salah. Apapun bisa terjadi. Allah kan mempunyai rahasia besar yang gak di ketahui umatnya”sahut Santi.
“Iya-iya aku ngerti kok,makasih ya atas nasehatnya. Kalian benar-benar sahabat terbaikku”.Kami berpeluakn dengan erat.
Jam sudah menunjukkan 20.30,mereka berpamitan pulang. ”Hati-hati ya?kataku kepada mereka. ”iya arum”jawah mereka.
Di atas pembaringan ku pandang langit-langit kamarku yang bisu dan kelabu itu. Sambil ku hayati nasehat sahabat-sahabatku tadi,kumasukkan dalam memoriku dan kusimpan baik-baik.
Tak berapa lama handphone ku berbunyi. ”Pasti Dewa,gumamku dalam hati”. Ternyata bukan,ini nomer baru. Kubaca dengan seksama.
“Arum Serunai yang manis...Tidak semua keindahan harus terlihat,tidak semua rasa harus di ungkapkan dan tidak semua syair harus diperdengarkan. Sejak pertama aku melihatmu telah kuukir wajahmu dalam benakku,kupahat namamu dalam hatiku. Aku mengagumimu dan aku menyukaimu....(Ryan Anggara)”.
Seperti tersambar petir di malam yang mencekam,kutarik nafasku dalam-dalam yang tak berirama,ku sandarkan badanku yang lemas di atas sandaran tempat tidur.
“Ya Allah,dosa apa yang telah kuperbuat?dosakah aku mengagumi dua cowok sekaligus?dosakah aku,jika aku menginginkan keduanya?dosakah aku jika membuat mereka kecewa?”.
“Kuserahkan semua padamu Ya Allah,karena rasa yang kupunya juga berasal dari-Mu. Beriakanlah jalan keluar yang terbaik buwat hamba. Hamba hanyalah makhluk kecil yang penuh khilaf dan kekurangan”.
Malam ini begitu membuat relung jiwaku sesak dan tak ada ruang lagi untuk meneteskan air mata. Perasaan gundah yang ingin kutumpahkan dalam lautan asmara antara aku,kamu dan dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CANDU

Aku adalah gadis kecil yang   beranjak dewasa, tepatnya orang menganggap ABG. Dunia remajaku yang penuh dengan fantasi. Kutemukan dun...