ARUM SERUNAI
Oleh
: Aris Yunita
Pagi ini berbeda dengan biasanya,sang Fajar tampak
malu-malu menunjukkan sinarnya. Sepoi-sepoi angin menyeka permukaan kulitku
dengan lembut. Titik-titik embun tampak begitu manja menempel di kaca jendela
kamarku. Kuintip dari koridor kamarku,masih terlihat agak gelap,sepi dan
hening. Suara ayam jago yang biasanya
berkokok dan suara burung yang biasanya bernyanyi juga tak kudengar di pagi ini. Mungkin mereka
masih terlelap tidur dan enggan bangun untuk menyapaku.
Meskipun
terlihat masih petang,jam di sudut kamarku terus menari-nari dan menunjukkan
pukul 05.00. Segera aku mengambil air wudhu lalu kutunaikan sholat subuh.
Selesai
sholat aku mengambil sapu dan menyapu halaman di depan rumah. Ini adalah pekerjaan
rutinku setiap hari. Selesai menyapu halaman,aku segera mandi,dandan,sarapan
dan bersiap-siap ke sekolah.
“Kok
tumben berangkat pagi nak?” tanya Ibuku heran. ”Iya bu,jam pertama nanti
waktunya Bahasa Inggris,waktunya guru galak yang pernah kuceritakan dulu? ”jawabku
asal saja. Dengan sibuk memakai sepatu taliku kulirik jam tanganku yang sudah
menunjukkan pukul 06.25.
”Gak boleh
begitu nak,nanti ilmunya gak barokah lho”sahut ibuku. Tanpa ku hiraukan omongan
ibuku barusan,langsung kusambar tas di atas kursi dan kucium tangan ibuku .
“Aku berangkat
bu,Asssalamualaikum”sahutku sambil menaiki sepeda miniku warna biru. ”Waalaikumsalam,hati-hati
nak!! gak usah ngebut”suara ibuku terdengar lirih dari ujung sini,karena aku
sudah meloncong jauh dari rumahku.
Aku selalu
menunggu teman-temanku di pertigaan jalan menuju sekolahku. Seperti biasa
teman-temanku sudah menungguku,karena aku yang selau datang terakhir.
Santi dan
Devi adalah sahabatku. Mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bersamaku. Santi
adalah anak yang paling centil dan pemberani diantara kami. Sedangkan Devi
adalah anak yang selalu ceria dan selalu punya ide-ide kreatif.
Diantara
kami bertiga akulah yang sering diusililn cowok-cowok. Ya makhlum saja,mungkin
aku yang paling manis dan paling populer disekolah ini. Setiap di usilin
cowok-cowok,Santi lah yang selalu melindungiku karena dia yang paling pemberani
diantara kami.
“Arum
cantik?”sapa seorang cowok yang bersimpangan denganku. ”Iya”kujawab dengan
senyum dan malu-malu. ”Mau keman?kok tumben jalan sendiri,biasanya kan selalu
di ikuti oleh dua bodyguard manja?hehehe...”tanyanya dengan sedikit menggodaku.
”Mau ke ruang BK ambil jurnal”jawabku singkat. “Jutek banget sih rum?”kata
cowok itu,yang mungkin agak kecewa dengan jawabanku barusan. Tanpa kuhiraukan
lagi,segera kupercepat langkahku menuju ruang BK.
Kalau
jam pelajaran seperti ini,aku paling males kalau disuruh keluar kelas mengambil
jurnal atau ada panggilan MPK. Pasti ada saja anak yang menggodaku.
Devi dan
Santi memang tidak satu kelas denganku. Devi di kelas 8-B,Santi di kelas
8-C,sedangkan aku di kelas 8-A.
Kelasku
sendiri berdampingan dengan kelas 9-A,jadi hampir setiap hari cowok-cowok 9-A selalu
menggoda dan mengusiliku. Tapi mereka tidak pernah menyentuh atau memegangku. Mereka
cuma nyorakin dan bersiul-siul kalau aku lagi lewat didepan kelasnya. Tapi ada
satu cowok diantara mereka yang tak pernah menggodaku kalau aku lagi jalan
sendiri. Dia cuma tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah apapun.
Aku adalah
anak yang pemalu dan agak cuek,jarang sekali aku menegur seorang cowok,apalagi
kakak kelas. Tapi anehnya lidahku begitu gemas untuk menyapa cowok yang satu
ini. Mungkin karena dia tak pernah menyapaku selama ini.
“Siapa
namanya?Dimana rumahnya?Bagimana sifatnya?”pertanyaan-pertanyaan itu terus
menggeliat di otakku. Aku sendiri tak tau darimana datangnya.
“Hayo,nglamun
aja...”bentak Dewa yang membubarkan lamunanku. ”Apaan sih kamu,selalu aja bikin
aku kaget”jawabku sambil cemberut. ”Gak
baik tau,nglamun terus ntar kesambet lho”sahut Dewa sambil
menyeringi.”Biarin,asal gak kesambet setan nyebelin kayak kamu”jawabku jutek. ”Hahaha...rum-Arum
lucu banget sih kamu”jawabnya menggoda.
Dewa
adalah teman cowokku yang super usil,meskipun begitu aku tak pernah marah
padanya karena tingkah lakunnya selalu mengundang tawa. Apalagi gayanya yang
cool dan penampilannya yang keren tak pernah membuat mata jemu untuk
memandangnya.
Bel pulang
sekolah SMP 1 Kharya Bakti berbunyi. Aku,Devi dan Santi segera menuju parkir
untuk mengambil sepeda kami. Namun mataku berkeliaran kesana kemari untuk
mencari sesuatu. Akhirnya dari samping aula terlihat seseorang yang aku cari. Ya,badannya
yang tinggi,kulitnya sawo matang,wajahnya yang manis dengan sedikit kumis tipis
di atas bibirnya.
“Cari
apaan sih rum?ayo cepetan jalan”bentak Devi sambil menyenggolku. ”Eh iya
Dev,kamu duluan aja deh gak apa-apa”jawabku sambil tetap menatap cowok itu dari
kejauhan. ”Kamu kenapa sih rum,gak biasanya kamu kayak gini?”lanjut Santi yang
keheranan. ”kalau ada masalah itu ngomong dong!!...katanya sahabat?Sahabat kan
harus saling berbagi dan saling membantu?”tambah Devi. Aku jadi merasa bersalah
kepada mereka,karena biasanya aku selalu curhat kepada mereka kalau aku lagi
ada masalah.
Di
perjalanan pulang,kuceritakan semua kejadian hari ini yang sempat membuatku
tidak konsentrasi belajar. ”Waduh,rupanya sahabatku ini lagi kasmaran ya?”Goda
Santi. ”Ciee...terus bagaimana dengan Dewa rum?Dia kan sudah lama
menunggumu?”sahut Devi. ”Kalian ini apaan sih?aku kan cuma ingin tau tentang
cowok itu,gak lebih kok. Eh malah bawa-bawa Dewa”jawabku kesal.
Tanpa
terasa kami sudah tiba di pertigaan jalan,kamipun berpencar menuju rumah
masing-masing. ”Sampai jumpa Arum?nanti malam kalau lagi galau telepon kami
ya?”kata Devi dan Santi yang memang searah jalan pulangnya. ”Dasar anak-anak
centil”gerutuku dalam hati.
Hari ini
terasa begitu cepat,sambil membantu ibuku memasang kancing baju ayah,kudengar
sayup-sayup adzan magrib sudah berkumandang. Segera Aku dan Ibu menunaikan
sholat magrib.Selesai sholat kami makan malam bersama.
Aku segera
menuju kamar untuk belajar,kali ini aku tidak terlalu bersemangat. Halaman demi
halaman hanya ku bolak-balik saja,ku baca sekilas tanpa kupahami isinya. Hanya
bayangan cowok itu yang terlintas dalam pikiranku dan sesekali bayangan Dewa
muncul di sela-sela pikiranku. Kututup bukuku dan ku rebahkan badanku di atas
pembaringan.
“Ya
allah,apa yang terjadi padaku?kenapa aku memikirkan dua cowok sekaligus?apakah
ini yang dinamakan cinta?aku tak pernah merasakan ini sebelumnya”. Ribuan
pertanyaan itu membuat kepalaku pening.
Tiba-tiba
aku dikagetkan oleh suara getar dari handpone ku. Sebuah pesan baru dari Dewa.
“Selamat
tidur Arum Serunai?semoga mimpi indah. Salam manis dariku”. Setelah kubaca
kalimat itu,kurasakan begitu tenangnya malam ini,menemaniku dalan sunyinya
malam dan mengantarkanku dalam mimpi yang sangat indah.
Pagi ini
aku sangat bersemangat sekali untuk berangkat sekolah,entah karena hari ini
agak free pelajarannya atau karena dua sosok pemuda idaman yang menghantuiku
dalam mimpiku semalam.
Seperti
biasa setiap hari Rabu jadwalku berolah raga.Pelajaran kali ini adalah bermain
voli. Selesai berolah raga aku menuju kantin untuk membeli minum. Dan betapa
terkejutnya aku,di bangku samping tempatku berdiri, cowok itu duduk sambil
menyruput segelas susu hangat. Tanpa sengaja mataku dan matanya berpapasan
untuk kesekian kalinya. Dan lagi-lagi dia hanya tersenyum ramah. Segera kubalas
senyumnya dengan senyuman termanis yang pernah kupunya.
Dengan
sedikit curi-curi pandangan,kuamati gerak-gerik cowok itu,dan baru kutahu
namanya adalah Ryan Anggara yang terlihat dari seragamnya. Tanpa permisi dia
meninggalkanku dengan temannya yang sudah duluan menggodaku.
Ryan
Anggara. Ya nama itu terus teriang di telingaku,terus berotasi di dalam
pikiranku,terus menjalar di aliran darahku.”Arrh... buwat apa aku mikirin cowok
itu,belum tentu dia memikirkanku. Kenal aja egak,bicara dengannya juga gak
pernah apalagi bisa menjalin hubungan dengannya?”aku menghibur diriku sendiri
dengan berusaha menghapus bayangan cowok itu dari benakku.
“Arum
cantik?”suara Dewa yang khas memecah keheninganku. ”Iya wa,ada apa?kalau mau
ngusilin aku,jangan sekarang.Aku lagi bad mood”jawabku agak malas.
”Ih,kok
gitu sih rum?niatku kan baik.Eh coba lihat aku dech,ada yang beda gak?Udah
pantas belum aku buwat kamu?”tanya Dewa sambil ngrapiin rambutnya . ”Hmmm.....Potong
rambut ya?bagus kok,lebih rapi”jawabku singkat.
”Ih kamu
jutek banget sih rum?”kata Dewa. ”Loh,kok jadi ngambek sih?Iya-iya maaf deh. Tambah
cakep kok! jawabku sambil tersenyum manja. Dewa pun ikut tertawa girang.
Hari ini
aku sangat gembira. Aku bisa bercanda dengan Dewa sekaligus mengetahui nama
kakak kelasku yang ku idolakan itu.
malam ini
aku,Devi dan Santi belajar berasama di rumahku. Seperti biasa setelah selesai belajar
kami selalu menyempatkan waktu untung berbagi kisah atau sekedar curhat. Kali
ini aku yang paling banyak bercerita. Kuceritakan semua perasaan gundahku
selama ini.
“Suka sama
orang itu boleh aja rum,tapi ingat! mereka juga punya perasaan. Jangan menggantungkan
mereka,apalagi menyakiti hati mereka. ”Kata Santi menasehatiku.
“iya
rum,kamu gak boleh egois seperti itu,menjalin hubungan dengan dua cowok
sekaligus. Pilihlah satu dari mereka,jangan kamu permainkan perasaan
mereka”tambah Devi menasehatiku.
“Tapi aku
kan gak mempermainkan mereka?Dewa Cuma temen biasa,sedangkan cowok itu juga
belum tentu mempunyai perasaan yang sama denganku”jawabku tegas.
“Tapi kamu
kan gak tau hari esok rum?bisa saja dugaanmu salah. Apapun bisa terjadi. Allah
kan mempunyai rahasia besar yang gak di ketahui umatnya”sahut Santi.
“Iya-iya
aku ngerti kok,makasih ya atas nasehatnya. Kalian benar-benar sahabat
terbaikku”.Kami berpeluakn dengan erat.
Jam sudah
menunjukkan 20.30,mereka berpamitan pulang. ”Hati-hati ya?kataku kepada mereka.
”iya arum”jawah mereka.
Di atas
pembaringan ku pandang langit-langit kamarku yang bisu dan kelabu itu. Sambil
ku hayati nasehat sahabat-sahabatku tadi,kumasukkan dalam memoriku dan kusimpan
baik-baik.
Tak berapa
lama handphone ku berbunyi. ”Pasti Dewa,gumamku dalam hati”. Ternyata bukan,ini
nomer baru. Kubaca dengan seksama.
“Arum
Serunai yang manis...Tidak semua keindahan harus terlihat,tidak semua rasa
harus di ungkapkan dan tidak semua syair harus diperdengarkan. Sejak pertama
aku melihatmu telah kuukir wajahmu dalam benakku,kupahat namamu dalam hatiku. Aku
mengagumimu dan aku menyukaimu....(Ryan Anggara)”.
Seperti
tersambar petir di malam yang mencekam,kutarik nafasku dalam-dalam yang tak
berirama,ku sandarkan badanku yang lemas di atas sandaran tempat tidur.
“Ya
Allah,dosa apa yang telah kuperbuat?dosakah aku mengagumi dua cowok
sekaligus?dosakah aku,jika aku menginginkan keduanya?dosakah aku jika membuat
mereka kecewa?”.
“Kuserahkan
semua padamu Ya Allah,karena rasa yang kupunya juga berasal dari-Mu. Beriakanlah
jalan keluar yang terbaik buwat hamba. Hamba hanyalah makhluk kecil yang penuh
khilaf dan kekurangan”.
Malam ini
begitu membuat relung jiwaku sesak dan tak ada ruang lagi untuk meneteskan air
mata. Perasaan gundah yang ingin kutumpahkan dalam lautan asmara antara
aku,kamu dan dia.